Bikin Kamu Jadi Genius

Cara Menekan Egois

Geeniuss. Cara Menekan Egois - Keegoisan, semua manusia pasti pernah melakukan suatu hal yang dinamakan dengan egois. Setuju atau tidak? Saya sangat setuju, karena saya pun begitu.

Terkadang, ingin melakukan hal yang hanya dapat menguntungkan diri sendiri atau nyaman dilakukan sendiri.

Hal tersebut dapat diakibatkan dari berbagai macam hal. Misalnya saja karena melihat karakter teman yang akan diberi bantuannya, “si dia juga ga pernah bantuin aku, ngapain aku repot-repot bantuin dia?” atau karena sedang kesal kepada teman kita.

Dalam hati terus saja menggerutu “ah biarin aja, da dianya juga nyebelin”. Banyak sebab yang dapat membuat kita menjadi egois.

Sebenarnya rasa ego yang kita miliki dan kita tunjukkan melalui tindakan kita itu merupakan rasa yang tidak dapat dikendalikan oleh diri kita. Lalu, itu tandanya bahwa rasa ego yang kita miliki itu dapat kita latih untuk dapat kendalikan bukan?

Ingatkah kita terhadap cerita-cerita terdahulu dari Rasul kita? Ketika rasul melewati seseorang ketika hendak melaksanakan shalat di mesjid, beliau diludahi oleh orang tersebut? Namun rasul tidak pernah membalasnya. Hingga pada suatu hari orang yang sering meludahi rasul tidak terlihat oleh rasul.

Rasul mencari kediaman orang tersebut dan menjenguknya. Alangkah terkejutnya orang yang sering meludahi rasul tersebut ketika melihat rasul menjenguknya dengan ramah. Hingga pada akhirnya orang tersebut berhenti meludahi rasul.

Amanat yang dapat dipetik dari cerita tersebut adalah ketika kita selalu melihat keburukan orang lain, dan membalas dengan hal yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan kepada kita, maka kita tidak ada bedanya dengan mereka. Serta, hal tersebut tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik lagi, namun akan mengaibatkan sebaliknya.

Jika setelah membaca cerita tersebut, ada yang berpendapat “ya.. da itu mah rasul”. Maka coba kita pikirkan sejenak. Apakah dengan melakukan hal yang demikian, hati kita akan merasa puas dan senang?
Cara Menekan Egois

Jawabannya ada pada respon diri kita yang ditimbulkan setelah melakukan hal tersebut. Jika kita merasa baik-baik saja setelah melakukan hal yang demikian, itu tandanya sedang ada yang salah pada hati kita, amal ibadah kita, atau bahkan rutinitas yang kita lakukan. Karena fitrah hati manusia, yaitu sadar ketika melakukan suatu kesalahan. Jika kita merasa resah dan khawatir, maka itu pertanda bahwa hati kita saja sudah merasakan ketidaknyamanan dari tindakan yang sudah kita lakukan. Oleh karena itu, hal tersebut dapat diatasi dengan :

1. Diam sejenak ketika sedang marah. 
Solusi untuk diam, bukan berarti kita boleh mendiamkan masalah yang sedang terjadi. Namun, diam yang dimaksud adalah diam untuk beberapa waktu, kemudian menyelesaikan masalah setelahnya dengan pemikiran yang lebih baik dari pada saat kita dikeilingi oleh emosi.

Pikirkan betapa pentingnya setiap masalah yang datang pada kita, pikirkan bahwa masalah akan semakin membesar jika kita mendiamkannya terlalu lama. Serta pikirkanlah, amarah dan penyelesaian masalah ketika marah itu akan menyakiti hati lawan bicara kita. Luka yang tidak bisa diobati oleh obat luar di apotek.

2. Mulailah berbicara. 
Siapapun yang salah, itu tidak penting untuk saat ini. Yang terpenting adalah siapa yang memiliki cinta dan sayang yang paling besar adalah orang yang paling awal bertindak dan mendahului memulai bicara jika sedang ada masalah. Carilah apa yang membuat kalian sama-sama saling mempertahankan ego kalian, gunakanlah bahasa dan kata-kata yang lembut meski lawan bicara belum merespon atau bahkan membalas dengan nada tinggi.

3. Pahami perasaan lawan bicara.
Sadarilah secepat mungkin bahwa pertahanan ego yang dilakukan oleh kedua belah pihak, bisa saja karena sama-sama mempunyai alasan yang kuat. Namun, tanpa kita sadari hal itu terabaikan dan akhirnya fokus utama kita hanya ada pada sikap apa dan sikap yang bagaimana yang dia lakukan kepada kita saja tanpa ingin mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan sampai-sampai membuatnya melakukan hal-hal yang menyebalkan.

Posisikan kita pada posisinya, sehingga kita bisa masuk pada apa yang dirasakannya dan apa yang sebenarnya diinginkannya. Setelah emosi lawan bicara mereda, maka utarakanlah apa yang mengganjal di hatimu dan sampaikanlah apa yang diharapkan olehmu.

Dunia ini mungkin terlihat kejam jika kita melihatnya dengan kacamata emosi dan egois semata, namun akan terlihat lain lagi jika kita melihatnya dari sudut pandang kesabaran. Semoga kita selalu berada pada golongan orang-orang yang sabar. Amin :)

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

Tag : Lainnya
0 Komentar untuk "Cara Menekan Egois"

Silakan berkomentar sesuai dengan isi postingan. Berkomentarlah dengan positif dan membangun. Mohon untuk tidak menyertakan link aktif. Terimakasih

Back To Top